Tokoh Dunia Yang Menginspirasi Perjalanan Ke Berbagai Kota di Dunia

1215 views

Berikut ada ulasan menarik dari situs panorama-magz.com tentang jika kamu mendapat tantangan untuk menjawab siapakah nama tokoh yang ingin kamu ajak makan malam sambil berbincang seru? Bila salah satu dari beberapa tokoh terkenal berikut ini menginspirasi kamu, mungkin sudah saatnya merencanakan perjalanan ke tempat yang dekat dengan kehidupan mereka.

Salzburg, Austria

Salzburg, Austria via panorama-magz.com

“Neither a lofty degree of intellegence nor imagination go to the making of genius. Love, that is a soul of genius.” (Wolfgang Amadeus Mozart)

Kota tua Salzburg di Austria didominasi bangunan-bangunan bergaya baroque dengan kastil-kastil besar dan gereja-gereja yang megah. Menyusuri jalan-jalan sempit di pinggiran Sungai Salzach,Wolgang Amadeus Mozart menghabiskan masa kecilnya dengan menulis konserto-konserto (komposisi musik yang terdiri tiga bagian, dengan permainan solo instrumen, biasanya piano, biola, cello, atau flute, dengan ditemani orkestra). Meski Mozart berulangkali menyatakan bahwa Salzburg terlalu kecil untuk menampung bakatnya, rumah kelahirannya (Mozart Geburtshaus) dan kediaman keluarganya (Mozart Wohnhaus) tetap merupakan saksi dimana Mozart mulai menunjukkan bakatnya. Terkenal dengan kepribadiannya yang ceria, Mozart tumbuh dikelilingi  kemegahan Festung Hohensalzburg,  benteng bertembok putih terbesar di Eropa, gereja ordo Fransiscan, dan St Peter’s Abby. Bagi yang ingin berkeliling ditemani guide bersertifikat dapat mengikuti Mozart City Tour dari Salzburg City Tour (salzburgcitytours.rezgo.com), yang akan mengunjungi Mirabell Palace, Mozarteum (University of Music), Marionette Theatre, Mozart Square, Mozart Wohnhaus, dan masih banyak lagi. Seharga 20 Euro untuk 6 – 14 tahun dan 25 Euro untuk dewasa, tiket ini sudah termasuk akses ke Festung Hohensalzburg. (Akses: Naik Lufthansa Air dari Jakarta menuju Salzburg dengan transit di Frankfurt dengan, tiket pp mulai 958 dolar AS. Dari Salzburg Airport ke pusat kota tersedia bus yang berangkat setiap 10-20 menit atau naik taksi)

Arles, Perancis

Arles, Perancis via panorama-magz.com

“I often think that the night is more alive and more richly colored than the day.” (Vincent van Gogh)

Vincent van Gogh melukis lebih dari 300 lukisan dalam satu tahun pertama ketika ia pindah ke Arles. Berjalan pada malam hari melewati Place du Forum, pandangan akan tertuju pada Terrace Cafe, yang kemudian diabadikannya dalam salah satu lukisan terkenalnya. Di lukisan itu ia mendeskripsikan Arles sebagai satu-satunya tempat ketika malam tidak perlu dilukis dengan warna hitam, melainkan dengan biru, violet, dan hijau yang dikelilingi iluminasi sulfur kuning pucat dan hijau limau. Sementara di pagi yang kelabu, ia duduk di salah satu kursi taman di depan jembatan Trinquetaille Bridge dan melukis Staircase of the Trinquetaille Bridge dengan mood yang sendu dan melibatkan banyak warna pucat. Di musim semi itu Vincent menyewa Place Lamartine untuk tempat berkarya bersama beberapa seniman lain, di mana kemudian Place Lamartine diabadikan dalam lukisan berjudul Yellow House. Di malam hari, van Gogh pergi ke Sungai Rhone yang hanya berjarak dua menit jalan kaki dari Place Lamartine untuk melukis pemandangan Starry Night Over the Rhone. Semasa hidupnya ia menderita epilepsi, selain mengalami halusinasi dan delusi, sehingga pada 1889, ia memotong sebagian telinga kirinya dan sejak itu ia bolak-balik menjadi pasien rumah sakit di Arles. (Akses: Naik Air France dari Bandara Soekarno Hatta – Marseille, tiket pp mulai $783. Dari Marseille naik kereta menuju Arles, booking tiket di www.raileurope.com seharga mulai 16 dolar AS. Kereta datang setiap satu jam sekali dengan durasi perjalanan 35-40 menit)

Kolkata, India

Kolkata, India via panorama-magz.com

Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” (Mother Teresa)

Mother Teresa menghabiskan sebagian besar hidupnya melayani orang-orang miskin, anak-anak terlantar dan mereka yang sakit-sakitan di daerah-daerah kumuh di Kolkata, Bengal Barat, India. Merupakan seorang biarawati yang bernanung di bawah Biara Loretto, ia tinggal di Loretto Entally Convent sejak tahun 1931-1948 dan ditugaskan mengajar di St. Mary’s School, sebuah sekolah untuk anak-anak kaum elite India. Mengajar selama 18 tahun dan kemudian menjadi kepala sekolah pada 1944, ia merasa bahwa panggilan sesungguhnya adalah untuk melayani “yang termiskin dari yang miskin dan yang terlemah dari yang lemah”. Setiap tahun Kolkatta ramai didatangi peziarah yang ingin mengunjungi rumah Mother Teresa sekaligus makam dan museum kecil yang menyimpan barang-barang pribadinya, seperti sari, mangkuk makan, rosario dan sandal. Selain Mother Teresa, banyak alasan untuk mengunjungi Kolkata. Selain merupakan gerbang menuju Darjeeling yang penghasil teh dan dikelilingi pegunungan sejuk, kota ini pun memiliki Kalighat Kali Temple, temple Hindu tertua dan terpenting di India, selain Sir Stuart Hogg Market untuk berbelanja oleh-oleh, dan Victoria Memorial Hall, bangunan serba putih yang dijuluki Permaisuri India. (Akses: Naik Jet Airways dari Bandara Soekarno Hatta – Netaji Subash Chandra Bose, tiket pp mulai 544 dolar AS)

Buenos Aires, Argentina

Buenos Aires, Argentina via panorama-magz.com

My mother thinks I am the best. And I was raised to always believe what my mother tells me.” (Diego Maradona)

Diego Armando Maradona lahir di Villa Fiorito, sebuah daerah pinggiran kota yang miskin di Buenos Aires,  dan seringkali hal itu dikaitkan dengan perilakunya yang cenderung kasar. Ia memulai karirnya bersama Argentina Juniors dengan memainkan enam season pertandingan dan mencetak 112 gol. Argentina Juniors menganggap Maradona sebagai pemain terbaik di tim mereka, sehingga kemudian mengabadikan namanya menjadi home stadium, Estadio Diego Armando Maradona di Villa General Mitre. Namun hati Maradona terikat pada Boca Juniors, tim yang dibelanya selama dua musim sebelum ke Barcelona. Maradona selalu mengatakan bahwa Boca Juniors adalah timnya dan La Bombonera adalah stadiumnya serta La Boca Village adalah rumahnya. La Boca Village sendiri merupakan kawasan perumahan yang penuh warna, di mana setiap rumah dicat dengan empat atau lima warna berbeda, sementara para penghuninya memiliki ikatan yang kuat dengan musik dan tarian Tango. Bila berkunjung ke sini, bersiaplah untuk mendapati penari Tango di Caminito. Selain kental dengan unsur budaya, Buenos Aires juga menawarkan pemandangan indah di Paseo del Rosedal (Rose Garden Walk) yang menebarkan wangi dan warna-warni dari 1.000 jenis mawar, selain sering dibanding-bandingkan dengan taman Tuileries di Paris. (Akses: Naik KLM Royal Dutch Airline dari Bandara Soekarno Hatta – Buenos Aires (Jorge Newbery), tiket pp mulai $2.873)

Yangon, Myanmar

Yangon, Myanmar via panorama-magz.com

 “You should never let your fears prevent you from doing what you know is right.” (Aung San Suu Kyi)

Sebelum Aung San Suu Kyi dibebaskan oleh junta militer Myanmar pada 2010 setelah menjalani masa  tahanan rumah selama 15 tahun, siapa pun yang ingin melihat rumahnya harus dari sisi lain Danau Inya, sekitar 300 meter jauhnya. Yang terlihat pun hanyalah bagian belakang mansion bergaya kolonial yang sudah tak terawat dengan naungan pepohonan besar itu. Sejak aktivis prodemokrasi Myanmar dan pemimpin National League for Democracy (NLD) ini mengirimkan undangan kepada pejalan dunia pada 2011 untuk berkunjung ke Myanmar, selain rekomendasi dari Lonely Planet, CNN, dan New York Times, nama negeri ini pun mencuat dalam sejumlah buku wisata dan rencana perjalanan para pejalan dunia sebagai destinasi baru di Asia dengan atraksi utama yang berhubungan dengan Aung San Suu Kyi: rumah dan kantor pusat NLD. Kini turis tak harus memotret markas besar NLD dari dalam mobil karena takut dengan aparat militer, namun justru bisa mengobrol dengan anggota partai, sebelum membeli suvenir, seperti T-shirt, gantungan kunci, dan mug. Berada di Yangon, alokasikan waktu setengah hari – saat terbainya adalah menjelang matahari terbenam – untuk mengeksplor kompleks Shwedagon Pagoda yang luas dan penuh julangan chedi emas dan biksu berbalut jubah kuning dan merah. (Akses: AirAsia, Tigerair, dan Jetstar Airways, Malaysia Airlines, Myanmar Airways International, dan Thai Airways memiliki rute ke Yangon)

New York, Amerika Serikat

New York, Amerika Serikat via panorama-magz.com

“However vast the darkness, we must supply our own light.” (Stanley Kubrick)

Stanley Kubrick adalah sutradara dengan portfolio genre film beragam dan beberapa jauh melebihi zamannya ini mengawali karirnya sebagai fotografer otodidak. Tak terlalu gemilang sebagai siswa, Kubrick mempelajari secara otodidak berbagai hal yang berhubungan dengan produksi film hingga membuatnya dinobatkan sebagai salah satu sutradara film paling berpengaruh di abad 20 – dan bahkan sutradara setenar Martin Scorsese, Steven Spielberg, James Cameron, Woody Allen, Terry Gilliam, Coen Bersaudara, Christopher Nolan, Guillermo del Toro, David Lynch, dan Ridley Scott terinspirasi dengan pergerakan kameranya yang unik untuk menghasilkan framing yang inventif.  Lahir dan besar di kawasan Bronx yang miskin dari orangtua berdarah Yahudi, Kubrick menikah dengan pacarnya sejak SMA dan tinggal di Greenwich Village, kawasan New York yang bernafaskan Bohemia karena merupakan hunian para imigran yang mulai berdatangan ke New York pada abad ke-19, terutama dari Irlandia, Jerman, Italia, dan kemudian dari Karibia Afrika, dan Amerika Latin. Inilah sebabnya kemudian Bronx menjadi tempat lahirnya musik Latin dan hip hop. Nama Bronx sendiri diambil dari sungai yang membelah kawasan ini dan Jonas Bronck, orang pertama yang membuka hunian di kawasan ini sebagai koloni Belanda yang baru pada 1639. Terobsesi dengan pembuatan film, Kubrick banyak mendatangi pemutaran film di Museum of Modern Art dan berbagai bioskop di New York City. (Akses: Dari Jakarta, naik Japan Airlines dengan transit di Tokyo, Turkish Airlines dengan transit di Istanbul, atau Qatar Airways dengan transit di Doha).

Reykjavík, Islandia

Reykjavík, Islandia via panorama-magz.com

 “I’m a fountain of blood. In the shape of a girl.” (Bjork)

Terbentuk dari serangkaian letusan gunung berapi dan sejumlah aktivitas geologi, tempat kelahiran Björk ini memiliki gletser berkilauan, air terjun cantik, dan pemandian air panas. Selain terdapat arena konser terbuka superluas di Laugardalur Park tempat Björk pernah tampil di depan lebih dari 15.000 orang, biasanya Björk melewatkan malam di Boston, bar favoritnya yang terletak di kawasan perbelanjaan Laugarvegur, atau berendam di Vesturbæjarlaug, kolam air panas yang menjadi tempat kegemaran mantan vokalis The Sugarcubes ini untuk bersantai. Reykjavík juga memiliki Taman Nasional Thingvellir yang terkenal sebagai tempat untuk melihat Aurora Borealis mulai Oktober hingga Februari, selain Walk on the Ice Side, tur terpopuler di Islandia, yang mengajak peserta mengagumi keindahan gletser Eyjafjallajökull yang menutupi gunung berapi (masih aktif, terakhir meletus 2010) dan Sólheimajökull yang membentang dari gletser Mýrdalsjökull hingga menuruni dataran berpasir di pesisir selatan Islandia. (Akses: Dari Jakarta, Qatar melayani penerbangan ke Reykjavík dengan transit di Doha dan London)

Nah bagaimana travel lovers? Setelah membaca ulasan dari panorama-magz.com mengenai beberapa tokoh inspiratif terkenal, apakah kamu tertarik menjadikan tempat-tempat diatas untuk tujuan travelling kamu berikutnya? Let’s travel and explore the world!

Author: 
    author

    Related Post

    Leave a reply

    3 × one =