Serunya Mempelajari Wisata Sejarah Yang Harus Kamu Tahu Saat Ini Juga!

949 views

Indonesia memiliki berbagai macam bangunan yang mencerminkan nilai sejarah yang tinggi dan hingga saat ini tetap dilestarikan, sehingga memungkinkan generasi sekarang untuk mengetahui lebih banyak mengenai asal muasal bangunan tersebut dan arsitektur bangunan era kolonial Belanda yang memiliki nilai artistik yang menakjubkan. Tidak ada salahnya jika kamu mengunjungi beberapa bangunan berikut ini untuk menambah pengetahuan sejarah kamu bukan? Yuk, kita simak beberapa tempat wisata di Indonesia yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan tak kalah menarik dari tempat wisata lainnya.

Tongkonan

Tongkonan

Tongkonan via id.wikipedia.org

Tongkonan merupakan rumah tradisional masyarakat Toraja yang terbuat dari tumpukan struktur kayu dengan atap seperti tanduk dan memiliki hiasan ukiran berwarma merah dan hitam. Tongkonan ini umumnya digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah dan juga merupakan pusat kehidupan sosial budaya suku Toraja.

Konon menurut cerita suku Toraja, Tongkonan pertama kali dibangun di Surga dan kemudian ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, mereka meniru rumah tersebut. Rumah adat ini terdiri dari 3 bagian yaitu atap rumah (ulu banua), badan rumah (kale banua), dan kaki rumah (sulluk banua). Memiliki bentuk persegi karena terikat dengan nilai spiritual 4 penjuru mata angin dengan 4 nilai ritual tertentu. Dan bangunan ini harus menghadap ke utara supaya kepala keluarga berhimpit dengan ulunna langi (kepala langit) sebagai sumber kebahagiaan.

Jenis-jenis tongkonan pun mencerminkan tingkat kekuasaan tertinggi seperti misalnya Tongkonan Layuk, adalah jenis tempat kekuasaan tertinggi yang dahulunya digunakan sebagai pusat pemerintahan. Sementara Tongkonan  Pekaindoran/Pekanberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki kewenangan tertentu dalam adat mereka dan digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan peraturan dan juga perintah adat. Lalu ada Tongkonan Batu Airi, adalah bangunan yang hanya dihuni oleh masyarakat biasa. Kemudian ada juga Tongkonan yang hanya dibangun dalam waktu semalam yang digunakan untuk keperluan upacara saja.

Setiap masyarakat Toraja selalu terikat dengan Tongkonan-nya. Dan setiap tongkonan terdiri dari rumah (Tongkon) dan lumbung (Alang) yang dianggap sebagai pasangan suami istri dimana deretan tongkonan dan alang saling berhadapan. Tongkonan menghadap ke arah utara dan Alang menghadap ke arah selatan. Sedangkan halaman yang memanjang diantara bangunan dan Alang disebut debagai Ulubabah.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk via birohumas.jatengprov.go.id

Gereja ini merupakan salah satu landmark kota Lama Semarang dan dibangun pada tahun 1753 dengan gaya Neo-Klasik. Jalan ini dahulunya disebut dengan Heerenstraat. Gereja ini hingga saat ini masih aktif digunakan oleh umat Kristen Protestan untuk misa kebaktian dan merupakan salah satu gereja tertua di Pulau Jawa dan merupakan gereja tertua di Jawa Tengah.

Pintu – pintu masuk gereja ini memiliki gaya klasik dan juga memiliki kubah besar yang terbuat dari tembaga. Gereja ini juga memiliki dua buah Menara di bagian kiri dan bagian kanan. Interiornya yang cantik dengan hiasan lampu gantung Kristal, kursi dan bangku ala Belanda, orgen Barok menjadikan gereja ini memiliki desain interior yang mengagumkan. Pada sisi bangunan di Timur Selatan dan Barat terdapat portico bergaya Dorik Romawi dengan atap pelana.

Gereja ini mengalami renovasi berkali-kali. Pada awalnya gereja dibangun pada tahun 1753 dengan bentuk panggung rumah Jawa kemudian pada tahun 1787 bangunan tersebut diromak total. Kemudian pada tahun 1894 gereja ini dibangun kembali oleh H.P.A de Wilde dan W. Westmas dengan bentuk yang bertahan hingga sekarang.

Kawasan Kesawan Medan

Kawasan Kesawan Medan

Kawasan Kesawan Medan via daerah.sindonews.com

Kesawan adalah merupakan nama sebuah tempat di Kota Medan yang merupakan bukti sejarah jaman masa kolonial Belanda dan memiliki banyak bangunan bersejarah yang masih tersisa diantara sekian banyak bangunan-bangunan baru. Kawasan tua ini memiliki karakter kuat yang seolah menceritakan sejarah masa lalu tentang terbentuknya kota Medan.

Kesawan ini memiliki lokasi yang strategis dan ramai serta terletak berdampingan dengan Lapangan Merdeka (dulunya adalah Esplanade), statsiun kereta api Medan-Belawan dan juga kantor pos. Bangunan lama di Kesawan umumnya memiliki dua lantai dimana pada masa itu mencerminkan sebuah konfigurasi bahwa bangunan duduk diatas bumi dengan kokohnya. Bangunan sudutnya dibuat lebih tinggi menjulang ke langit dengan maksud mendekatkan langit (alam) dengan manusia dan memungkinkan sinar matahari dapat menyinari bagian dalam bangunan.

Bangunan ini dibuat pada masa dulu untuk mencerminkan simbolisasi yang melambangkan eksistensi manusia dan memiliki berbagai ornamen dan motif Melayu, Eropa, dan Cina. Namun sayangnya pada masa sekarang ini banyak berdiri bangunan-bangunan baru di sekitarnya yang seolah menenggelamkan citra sejarah bangunan Kesawan.

Taman Sari Yogyakarta

Taman Sari Yogyakarta

Taman Sari Yogyakarta via Indonesia-tourism.com

Tamansari merupakan sebuah kompleks yang lebih banyak menonjolkan sisi arsistik pada bagian air dan kolam, dan disebut sebagai Istana Air (Water Castle) dengan keunikan lekukan bangunan dan air yang terisi pada kolam-kolamnya. Dahulunya Taman ini digunakan oleh Raja Mataram untuk ritual mandi pada bulan-bulan tertentu. Konon ketika Raja Mataram hendak masuk ke Istana Air Tamansari, beliau disambut dengan musik gamelan yang terdengar dari bangunan-bangunan kecil di bagian kanan dan kiri yang terdapat di depan Istana Air tersebut. Kemudian dilakukan upacara tertentu untuk menyambut rombongan Raja yang hendak masuk.

Istana Air ini dibangun oleh Raja Mataram pada tahun 1758 – 1769 dan hingga kini kondisi bangunan tetap dijaga dan dilestarikan. Berbagai bangunan yang masih tersisa adalah Sumur Gemuling (Gumuling), Gedhong Gapura Hageng, Umbul Pasiraman, Gedhong Gapura Punggung yang merupakan bangunan kembar di sisi kanan dan kiri) serta beberapa bangunan yang menuju ke arah Sumur Gemuling. Sedangkan di bagian paling belakang Istana Air hanya tersisa sebuah taman kecil saja.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia via wisatanesia.co

Museum Bank Indonesia ini terletak di kawasan kota tua Jakarta dan awalnya merupakan sebuah rumah sakit Binnen Hospital yang kemudian digunakan sebagai De Javashe Bank pada tahun 1828. Kemudian pada tahun 1953 setelah kemerdekaan, bangunan ini dinasionalisasi menjadi Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia. Kemudian pada tahun 2006 bangunan ini diresmikan oleh Gubernur BI Burhanuddin Abdullah sebagai Museum Bank Indonesia.

Gedung Museum Bank Indonesia ini tetap berdiri kokoh dan cantik hingga sekarang dengan warna putih yang elegan. Seperti layaknya gedung peninggalan Belanda, diatas pintu masuk Museum ini menggunakan kaca patri mozaik yang indah yang dibuat oleh seniman Belanda bernama Ian Sihouten Frinsenhouf dengan total 1509 panel kaca patri.

Di dalam museum ini terdapat ruang peralihan dan juga ruang theater. Disini kamu juga dapat melihat sejarah Bank Indonesia.  Terdapat juga ruang brankas yang terbuat dari pintu baja, ruang numistatik collection yang memberikan informasi mengenai sejarah alat tukar menukar yang ada di Indonesia. Ada juga pemandu yang siap untuk menjelaskan ke para pengunjung jika ada pertanyaan.

Nah bagaimana travel lovers? Berwisata ke beberapa tempat sejarah tentunya sangat menarik bukan? Hal ini bisa semakin menambah pengetahuan kamu mengenai beberapa tempat bersejarah di Indonesia yang masih dilestarikan dan dijaga nilai sejarahnya hingga saat ini.

pengetahuan tentang wisata sejarah tempat wisata sejarah indonesia wisata sejarah

Author: 
    author

    Related Post

    Leave a reply

    five × two =